Selasa, 14 April 2020

4G NEW DIMENSION


Rabu, 15 April 2020

 

4G NEW DIMENSION

 

Tuhan telah menentukan bahwa setiap orang yang percaya kepadaNya akan menerima kemuliaan, namun bukan ‘kemuliaan’ seperti keinginan kita, melainkan Kemuliaan seperti KehendakNya. _“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”_(Lukas 22 : 42)

Belajar dari kehidupan Tuhan Yesus bahwa proses menuju *KEMULIAAN* adalah *KEMATIAN* dan *PENDERITAAN*. Menjelang perayaan Paskah, ketika Yesus dan murid-murid hendak beribadah pada hari raya itu, _Dia berkata: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”_ (Yohanes 12 : 20 - 25).

Dalam suasana pandemic covid-19 sekarang ini, mari ikuti teladan Tuhan Yesus melalui setiap proses, sesuai konteks yang kita alami sekarang dengan 4G New Dimension :

 

1. GETSEMANI :

"Bangunlah Mezbah Paskah ditengah Wabah”

Ketakutan dan kekhawatian yang kita alami hari-hari ini tidaklah sebanding dengan yang Tuhan Yesus alami, dimana Dia mengalami tekanan yang begitu berat dalam hidupNya, suatu kengerian dan ketakutan yang luar biasa sehingga peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah karena Ia harus menanggung dosa dunia. Tuhan Yesus memilih ‘membangun mezbah’ di Getsemani dan berdoa kepada Bapa, sama seperti yang dialami Bangsa Israel dalam perbudakan Mesir menjelang Paskah, mereka masuk kedalam rumah dan ada tanda darah di ambang pintu mereka sehingga tulah itu berlalu dari mereka. Demikianlah kita seharusnya: _Bangunlah Mezbah Paskah ditengah Wabah,_ sebab hanya dalam HadiratNya kita beroleh keselamatan dan kekuatan yang baru. (Matius 26 : 36 - 46)

 

2. GOLGOTA :

"Ketaatan didalam Penderitaan"

Tuhan Yesus harus mangalami hukuman di kayu salib setelah mengalami siksaan yang begitu kejam, karena hukuman salib adalah hukuman mati yang sangat sadis. Tuhan Yesus TAAT sekalipun harus melewati penderitaan, supaya Kehendak Bapa dinyatakan, demikianlah kita harus hidup dalam Ketaatan sekalipun sepertinya ‘menderita’ dirumah terus, tidak bisa bekerja dan beribadah seperti biasa, tetapi tetaplah taat kepada otoritas yang diberikan Tuhan kepada Pemerintah kita. Harus ada kematian terhadap keinginan pribadi kita, supaya Kuasa Tuhan dinyatakan lewat perlindunganNya melalui kesehatan kita yang terpelihara sampai hari ini. (Matius 27 : 32 - 56)

 

3. GALILEA :

"Ujian mendatangkan Kemenangan”

Setelah kebangkitan, Tuhan Yesus harus kembali menyatakan diriNya di Galilea dimana Ia banyak menghabiskan waktu pelayananNya. Tujuannya ke Galilea adalah untuk mengingatkan para murid-muridNya agar hidup mereka benar-benar dipulihkan dan meneguhkan kembali panggilannya sehingga siap mengemban tugas Kerajaan. Inilah waktunya melewati ujian kekristenan kita melewati pandemic covid19 ini, apakah kita tetap menjaga iman kita kepada Tuhan, teruslah merenungkan Firman: Jadi, Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus. (Roma 10 : 17)

 

4. GLORY :

"Kemuliaan mendatangkan Pertobatan"

Ketaatan Yesus melakukan kehendak BapaNya membuat Bapa sangat memuliakan Dia, sehingga ketika Dia ditinggikan maka akan menarik semua orang datang kepada-Nya, demikianlah kita nanti setelah melalui pandemic ini harus lebih berani melakukan Amanat Agung Tuhan untuk ‘pergi dan jadikan semua bangsa muridNya’. Pertukaran sudah terjadi sehingga dosa kita sudah diampuni melalui karya salib Kristus. Nyatakan KemuliaanNya lewat kehidupan kita, jadilah garam dan terang dunia dimanapun Tuhan tempatkan kita, _let’s move-on_ jangan hanya terus mengeluh karena keadaan saat ini, yang bekerja teruslah bekerja dengan ukuran yang baru, yang dulu jualan konvensional kembangkan dengan jualan online, tukang cukur gunakan cara baru mencukur yang lebih higineis, tukang sayur gunakanlah cara baru berjualan online atau dengan jemput bola kerumah pelanggan. Inilah ‘New Dimension’ atau suatu ukuran baru yang sedang Tuhan kerjakan lewat pandemic yang terjadi saat ini. (Matius 28 : 16 - 20)

Badai pasti berlalu, ada pelangi sehabis hujan, tetaplah percaya kepada Tuhan. Jangan takut dan gentar hatimu, It is Finished! Sudah selesai, Tuhan Yesus telah melakukan bagianNya untuk menggenapi kehendak Bapa melalui jalan 4G : Getsemani – Golgota – Galilea - Glory, saatnya kita melakukan yang menjadi bagian kita untuk menyatakan KemuliaanNya di tengah dunia ini.

 

Tuhan Yesus Memberkati.

Label: ,

Jumat, 14 Agustus 2015

Kehidupan Manusia Sebelum Jatuh Dalam Dosa

Pada mulanya ketika Tuhan menjadikan manusia pertama adam dan hawa adalah sungguh sempurna dan baik adanya (Kejadian 1:31). Tuhan menjadikan  manusia sungguh sangat beda dari degala segala ciptaan yang lain. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Itu artinya bahwa manusia adalah makhluk yang sangat mulia, yang jauh melebihi semua ciptaan Tuhan lainnya. Manusia memiliki kehidupan ilahi dalam dirinya dengan Tuhan memberikan roh kepadanya untuk bisa berkomunikasi dan bersekutu dengan pencipatanya.

 Tuhan memberikan naluri kepada manusia yang jauh berbeda dan bahkan melebihi semua binatang. Tuhan memberikan otak yang luar biasa cerdasnya, yang mampu untuk berpikir, belajar, berkreasi, mengatur,  memilih, menentukan dan memutuskan. Dalam kejadian 1:20 berkata “Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung diudara, dan kepada segala binatang di hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia”.  Hal ini membuktikan bahwa Allah telah menaruh kecerdasan yang luar  biasa dalam diri  manusia, yang memiliki kesanggupan untuk bisa memberi  nama satu persatu kepada segala jenis binatang. 

Allah sungguh memiliki rencana yang indah dan mulia kepada manusia cipataan-Nya. Sebelum manusia dijadiakan Allah sudah terlebih dahulu menciptakan segala sesuatunya dengan sangat teramat baik, untuk keperluan dan kelangsung hidup manusia ciptaaa-Nya yang sangat istimewa ini. Allah Tidak cukup puas dengan menciptakan langit dan bumi dengang segala isinya, untuk kebaikan manusia ciptaan-Nya yang begitu mulia, tetapi juga Tuhan membuat suatu taman khusus dan istimewa, taman VIP, untuk manusia cipataa-Nya yang sangat disayangi dan dicintai. Taman ini didesain begitu rupa, dengan segala, keindahan,kemewahan  dan kesejukkannya oleh Tuhan. Tuhan melengkapi semua apa yang dibutuhkan oleh manusia dalam kualitas yang terbaik, Alkitab menyaksikan hal ini dengan berkata “Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagi pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya” Kejadian 2:9a.

Allah mendesain manusia begitu rupa dengan segala keperluan yang terbaik yang disediakan-Nya, bukanlah tanpa suatu tujuan yang jelas. Allah mempunyai rencana dan tujuan yang indah  kepada manusia yang telah diciptakan-Nya. Yang pertama, bahwa Allah menghendaki agar manusia berkuasa atas segala ciptaan-Nya dan segala makhluk dibumi . Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" kejadian 1:26.

 Manusia dipercayakan untuk menjadi rekan sekerjanya Allah dalam hal berkuasa atas segala makhluk ciptaan-Nya di bumi. Tentunya ini adalah tanggung jawab yang sangat besar, dan 
suatu kehormatan besar  dan sangat mulia bagi manusia pertama untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam berkuasa atas cipataa-Nya, kendati manusia juga adalah bagian dari ciptaan Allah sendiri. Tuhan tidak mempercayakan tugas mulia ini kepada makhluk lain dari ciptaan-Nya bahkan juga tidak dipercayakan kepada para malaikat ciptaan-Nya, hanya dipercayakan kepada manusia. Hal ini membawa kita kepada suatu pemikiran bahwa manusia memilki kedudukan yang sangat penting dihati Tuhan, walaupun manusia hanyalah bagian dari makhluk ciptaan-Nya.

Allah juga menghendaki manusia untuk beranak cucu dan bertambah banyak, memenuhi bumi dan menaklukannya, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi" Kejadian 1:28. Jauh sebelum manusia jatuh dosa, Allah sudah menghendaki  manusia untuk beranak cucu dan bertambah banyak dengan suatu perintah untuk berkembang biak. Tentunya ini bukanlah tanpa suatu tujuan, mengingat tanggung jawab yang begitu besar yang diberikan Allah kepada Adam dan hawa untuk berkuasa atas segala makhluk cipataan Tuhan, tentunya Allah sudah tau kalau hanya Adam dan Hawa saja, tentunya mandat yang diberikannya kepada Adam dan Hawa akan sulit terlaksana. Dengan manusia  makin bertamabah banyak dibumi, maka semakin mempermudah untuk melakukan mandat yang telah diberikan untuk dilaksanakan dengan baik. Ketika manusia berhasil melakukan mandatnya Allah, maka  semunya bermuara untuk kemuliaan nama-Nya.

Satu hal lagi, Tugas khusus  yang Allah kehendaki untuk manusia pertama lakuakan adalah, agar manusia mengusahakan dan memelihara lingkungan tempat mereka ditempatkan. Dalam hal ini adalah taman eden, taman yang begitu istimewa, memilki keindahan yang luar biasa “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” kejadian 2:15. Taman Eden dibuat khusus oleh Allah untuk ditempati,  dinikamti oleh  Adam dan Hawa. Taman yang begitu indah, mempesona dan istimewa, Allah menghendaki supaya manusia pertama ini, bekerja keras untuk menjaga kelestariannya. Allah menghendaki agar  Manusia  bertanggung jawab atas lingkungannya.

Kata “Eden” artinya kesenangan. Adam dan Hawa disuruh Tuhan untuk mengusahakan dan memelihara taman ini untuk tetap menjadi taman yang menyenangkan dan menyukakan bagi Allah, bagi manusia, bagi seluruh makhluk cipataan-Nya. Tentunya ini memerlukan suatu usaha yang sangat serius dari Adam dan Hawa untuk tetap mengusahakan dan memelihara taman ini semaksimal mungkin untuk tetap menjadi tempat yang sungguh menyenangkan. Aplikasi rohaninya bagi kita adalah, bahawa dimanapun Tuhan tempatkan kita, kita harus tetap mengusahakan dan memelihara tempat itu supaya menjadi “taman eden”, yang menyenangkan menyukakan hati Tuhan dan manusia dengan segala makhluk yang ada didalamnya.


Semua hal ini kita membawa kita kepada suatu pemahaman bahwa betapa Tuhan sangat menyayangi dan mencintai manusia ciptaa-Nya, yang diciptakan unik dari segala ciptaan yang lain. Tuhan adalah Allah yang bertanggung jawab atas ciptaaan-Nya. Bukan hanya sekedar mencipta tetapi juga menyediakan segala apa yang diperlukan, memberi yang baik bagi manusia makhluk ciptaan-Nya, memelihara dan melindungi begitu rupa dengan cinta kasih. Tuhan telah menunjukan kasih sayangnya yang besar terhadap Adam dan Hawa bagaikan seorang Ibu yang sebelum melahirkan telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kelangsungan hidup anaknya. Dan setelah melahirkan, sang ibu memberi makanan yang bergizi, menyusui, menempatkan ditempat yang terbaik, menjaga dan memeliharnya.

Tuhan menempatkan mereka  di taman eden, yang adalah taman Tuhan. suatu taman yang memiliki panorama yang luar biasa. Manusia pertama ditaman eden memiliki suatu kehidupan yang begitu indah dan harmonis. Manusia pertama memilki tubuh-tubuh yang begitu sempurna. Pada saat Adam danHawa hidup ditaman eden kehidupan yang mereka jalani  semuanya serba berjalan dengan baik, adanya damai sejahtera dan sukacita, kebahagian, karena Allah ada ditengah-tengah kehidupan mereka. Hidup dengan tentram tanpa ada kekhawatiran, ketakutan dan kegelisahan. Di taman eden  terjalin hubungan yang manis dan indah antara Allah dan manusia, Allah bisa berkomunikasi langsung kepada manusia demikianpun sebaliknya. Manusia memiliki hubungan kasih mesra dengan Tuhan. Manusia melakukan tanggung jawabnya sebagai cipataan dihadapan Tuhan , yaitu  memuji dan menyembah Tuhan, hidup dalam ketaatan penuh kepada penciptanya, dan tentu saja Allah bertanggungjawab penuh terhadap manusia ciptaan-Nya dengan memberkati, memelihara kehidupannya. 

Selain memiliki hubungan yang  sangat harmonis dengan Allah, ditaman eden juga manusia pertama memilki hubungan yang begitu harmonis satu sama lain. Mereka tentunya menjalani kehidupan tanpa adanya pertengkaran, perselisihan , kecemburan, kebencian. Tidak ada rasa saling menyakiti, dendam dan saling bermusuhan, tidak saling menyalahkan. Mereka hidup dalam suatu keharmonisan yang tinggi, saling mengasihi, sebagaimana kasih Allah memenuhi hati mereka setiap saat. Hidup dalam kesehatian, sepikir, sejiwa, hidup dalam kebersamaan yang rukun dan damai. Adanya rasa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Hidup dengan saling berperngertian.Bergandengan tangan untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia terhadap  Allah, terhadap sesamanya  manusia, terhadap  segala binatang , dan terhadap bumi beserta lingkungan yang dipercayakan Tuhan untuk dikelola dengan baik.

Keharmonisan juga terjalin antara manusia degan bumi dan segala  makhluk ciptaan lainnya. Adam dan hawa begitu menyayangi dan mengelolah dengan seganap cinta apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka. Manusia pertama bisa berteman dengan segala jenis binatang tanpa ada rasa ketakutan diantara mereka, bahkan dengan binatang yang kita anggap buas sekalipun. Air, tanah memberi hasil yang terbaik bagi kehidupan manusia, iklim memberikan kesejukan yang terbaik, semuanya terasa berada dalam suatu keharmonisan, keindahan yang luar biasa yang jauh kalau dibangkan dengan kehidupan zaman sekarang ini yang semakin tidak bersahabat. Keharmonisan yang indah ini terjalin dimungkinkan karena adanya kasih sayang yang murni dan tulus, dimulai dari Allah yang menunjukan kasih-Nya kepada makhluk ciptaan-Nya khusus kepada manusia. Seterusnya  manusia mengimplentasikan kasih yang telah dia terima dari Tuhan kepada sesamanya manusai dalam hal ini adalah Hawa istri-Nya, dan juga kepada makhluk cipataan Tuhan lainnya.

Kehidupan manusia  di taman eden sebelum jatuh kedalam dosa adalah, suatu kehidupan yang begitu indah dan harmonis antara pencipta dan cipataan, dan antara ciptaan dengan ciptaan yang lain. yang dilandaskan oleh cinta kasih yang tulus dan murni. Ditaman eden tidak mengenal namanya penderitaan, kesusahan, kesedihan, tangisan, kelaparan, kematian, karena kehidupa  berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Kehidupan ditaman eden diwarnai oleh suatu sukacita, damai , kebahagiaan ilahi dalam setiap makhluk sebagai cipataan. Kehidupan ditaman eden sangat berbanding terbalik dengan kenyataan kehidupan manusia sekarang ini yang sudah dikuasai dosa. Manusia hidup berpusatkan kepada Allah dalam keintiman yang dalam dan hidup dalam ketaatan yang sungguh kepada setiap aturan yang telah ditetapkan Tuhan. Adam dan Hawa menjalani kehidupan dengan bertanggung jawab penuh terhadap setiap hal yang diamanatkan oleh Tuhan untuk mereka lakukakan. Dengan demikian hal ini membawa impact yang luar biasa kepada makhluk lain dimuka bumi ini yang terhadapnya manusia diberikan hak untuk berkuasa, diusahakan dan dipelihara. Semunya berjalan teratur dalam keharmponisan yang begitu indah. 

Kalau hidup kita sebagai orang percaya benar-benar berpusatkan kepada Allah dalam level keintiman yang dalam, hidup dalam ketaan penuh terhadap setip aturannya, dan melakukan setiap tugas yang dipercayakan  oleh untuk kita kerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab yang tinggi, maka hal ini akan  membawa kita kepada suatu kehidupan yang harmonis dengan Allah dan akan berdampak postif kepada sesama manusia,  kepada alam dimana kita tinggal dan juga kepada segala makhluk hidup yang ada disekitar kita.

Amen.

God Bless :)



Label:

Selasa, 21 Juli 2015

PELAYANAN YANG BERKENAN BAGI TUHAN


Ayat Bacaan: 2 Kin 4:8-10

Cerita ini merupakan kisah Elisa hamba nabi Elia yang kemudian hari menggantikan dirinya menjadi nabi di Israel. Elisa adalah seorang pemuda yang sederhana yang diajak nabi Elia untuk ikut dengannya. Ketika nabi Elia diangkat Tuhan maka Elisalah yang menjadi pewaris dari pengurapan (kuasa Allah) yang ada dalam diri nabi Elisa.

Ditengah jaman yang semakin semakin jahat ini, kita harus semakin giat melayani Tuhan apapun kondisi atau keadaan kita. Jangan sampai kita mau melayani Tuhan hanya pada saat kita sedang berada dalam kondisi yang baik dan diberkati saja.

Melayani Tuhan bukan berarti harus menjadi seorang pendeta tetapi melayani di sini adalah memuliakan Tuhan dalam keluarga, pekerjaan dan segala aspek hidup kita. Tetapi ingat jangan melayani Tuhan hanya karena ingin berkat-Nya saja, tetapi layanilah Tuhan dengan motivasi yang benar, berkat-berkat itu secara otomatis akan mengikuti kita. Elisa melakukan hal itu dalam hidupnya sehingga ia tidak pernah mengalami kekurangan dalam hal apapun sebab Tuhan memelihara hidupnya melalui berbagai cara (2 Kin 4:8).

Perempuan Sunem dalam kisah ini juga memberikan kita teladan yang baik dalam melayani Tuhan, Setiap kali Elisa melakukan perjalanan dalam pelayanannya, perempuan Sunem selalu mengundang dan bahkan menyediakan sebuah ruangan beserta isinya sebagai tempat Elisa beristirahat. Dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perempuan Sunem ini melayani mengalami peningkatan dalam pelayanan-Nya dari memberi makan sampai dengan menyediakan tempat tinggal bagi Elisa.

Ciri-ciri pelayan yang berkualitas (2 Kin 4: 10):

1. Memiliki satu ruang khusus bagi Tuhan.
Kata "kamar atas"secara jasmani menunjuk kepada satu ruangan khusus yang harus kita sediakan bagi Tuhan yaitu ruang doa yang harus kita sediakan untuk kita bisa dengan tenang berkomunikasi dengan Tuhan. Secara rohani hal ini berarti harus ada satu ruang khusus dalam hati kita sebagai tempat tinggal untuk Tuhan dapat memerintah dalam hidup kita. Jika hal ini kita lakukan dengan baik maka hadirat Tuhan selalu berkenan untuk tinggal dan berkat - berkat-Nya pun akan tercurah bagi kita.

2. Mengambil waktu ditengah kesibukan untuk beristirahat.
Kata "sebuah tempat tidur" mengandung arti bahwa kita harus punya waktu untuk keluarga dan saudara-saudara kita. Jangan sampai kita terlalu sibuk sehingga tidak pernah memperhatikan keluarga kita. Selain itu tempat tidur juga berbicara tentang waktu untuk beristirahat. Jangan sampai karena mencari uang kita jatuh sakit (Psa 127:2)

3. Harus mau berbagi dengan orang lain (sesama).
Meja berarti tempat untuk makan bersama artinya kita harus mau berbagi dengan sesama kita yang membutuhkan. Jangan terikat kepada harta dan tidak mau menolong orang lain.

4. Pelayanan yang berkualitas.
Kursi melambangkan otoritas artinya kita harus melekat dengan Tuhan sehingga otoritas dari Tuhan ada dalam diri kita. Ketika banyak masalah yang datang kita mampu menjalani dan menyelesaikannya dengan otoritas dari Tuhan.

5. Harus memiliki terang dalam hidup.
Kandil berbicara tentang pelayan yang berkualitas. Pelayanan yang paling baik adalah menjadi terang dalam lingkungan kita, hal ini supaya hidup kita dapat menjadi sorotan yang baik yang menjadi teladan dan penuntun orang kepada Kebenaran.

"TUHAN YESUS MEMBERKATI"

Lagu: INDAH RENCANAMU

Indah rencanaMu Tuhan, di dalam hidupku
Walau 'ku tak tahu dan 'ku tak mengerti semua jalanMu
Dulu 'ku tak tahu Tuhan, berat kurasakan
Hati menderita dan 'ku 'tak berdaya menghadapi semua

Tapi 'ku mengerti s'karang, Kau tolong padaku
Kini 'ku melihat dan 'ku merasakan indah recanaMu
Kini 'ku melihat dan 'ku merasakan indah recanaMu

Label:

Minggu, 22 Maret 2015

Renungan Harian Air Hidup


SUNDAY, MARCH 22, 2015

KEKUATAN MAKIN BERTAMBAH-TAMBAH (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Maret 2015 

Baca:  Mazmur 84:1-13

"Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!"  Mazmur 84:6

Di tengah dunia yang semakin hari semakin dipenuhi gejolak ini banyak orang Kristen yang malah menjauh dan meninggalkan Tuhan, karena beranggapan bahwa mengikuti jalan Tuhan ternyata lebih complicated, banyak masalah dan ujian, sementara mereka melihat hari-hari yang dijalani orang-orang dunia sepertinya mulus tanpa aral.  Secara manusia pergumulan yang harus kita hadapi memang cukup berat dan kita memiliki alasan untuk menjadi lemah dan putus asa, tetapi justru Tuhan menghendaki kita makin lama makin kuat:  kuat doa, kuat ibadah, kuat pelayananan, kuat iman, kuat pengharapan dalam Tuhan, kuat dalam mempraktekkan kasih kita kepada Tuhan dan juga terhadap sesama.

     Bani Korah, yaitu anak-anak Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, yang turut dalam pemberontakan terhadap Musa dan kemudian berpartisipasi aktif dalam pelayanan di Kemah Suci, bertugas sebagai penjaga pintu masuk, mengolah roti, serta menyanyikan puji-pujian bagi Tuhan, melalui mazmur ini memberikan kiat-kiat bagaimana supaya kita tetap kuat di segala situasi.  Kuncinya adalah senantiasa di rumah Tuhan,  "Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau."  (Mazmur 84:5).  Adakah kita memiliki kerinduan yang dalam untuk bertemu Tuhan di bait-Nya yang kudus, seperti yang dirasakan oleh pemazmur ini?  "Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN;"  (Mazmur 84:3).  Berdiam di rumah Tuhan berarti kita memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan, setia beribadah dan melayani Tuhan.  Itulah sebabnya Daud merasa senang kalau ada yang memanggilnya untuk pergi ke rumah Tuhan,  "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: 'Mari kita pergi ke rumah TUHAN.'"  (Mazmur 122:1).

     Jangan sekali-kali kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang ada karena Tuhan sudah memberikan waktu:  "...enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN,"  (Keluaran 20:9-10).

Saat berada di rumah Tuhan kita akan menyaksikan kemurahan TUHAN!  (baca  Mazmur 27:4).

SATURDAY, MARCH 21, 2015

FIRMAN TUHAN: Sebagai Fondasi Hidup (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Maret 2015 

Baca:  Lukas 6:46-49

"Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya--Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan--,"  Lukas 6:47

Fondasi yang membangun hidup kita akan kuat dan kokoh apabila kita menjadikan firman Tuhan sebagai makanan rohani setiap hari.  "...yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."  (Mazmur 1:2-3).  Saat itulah kehidupan kita akan semakin dibawa lebih tinggi dan semakin tinggi,  "...seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."  (Yesaya 40:31).  Di tempat yang tinggi itulah kita akan melihat dan mengalami perkara-perkara besar dinyatakan.

     Jika kita mendasari hidup kita dengan firman Tuhan, maka daya tahan kita terhadap goncangan akan semakin kuat;  jika tidak, keadaan kita akan sama seperti  "...orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."  (Matius 7:26-27).  Sedikit goncangan atau masalah terjadi hidup kita akan porak-poranda dan hancur berkeping-keping.  Kunci kekuatan itu adalah datang kepada Tuhan Yesus dan percaya kepada-Nya karena Dia adalah Batu Karang yang teguh  (baca  1 Korintus 10:4).  Berbekal percaya saja dan punya pengetahuan tentang firman saja tidaklah cukup, kita juga harus melakukan firman yang telah kita dengar dan pelajari, sebab  "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."  (Yakobus 2:17).  Tuhan berkata,  "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."  (Matius 7:21).

     Rajin beribadah, rajin pelayanan dan rajin membaca Alkitab tanpa disertai perbuatan nyata sesuai firman-Nya tidak akan membawa hasil yang maksimal.

Janji-janji Tuhan disediakan bagi orang yang membangun hidupnya di atas Batu Karang  (Tuhan Yesus)  dengan ketaatan.

FRIDAY, MARCH 20, 2015

FIRMAN TUHAN: Sebagai Fondasi Hidup (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Maret 2015 

Baca:  Matius 7:24-27

"Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu."  Matius 7:25

Sekarang pembangunan gedung-gedung bertingkat yang tinggi menjulang seperti hotel, mal dan apartemen semakin menjamur di kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya dan kota-kota lainnya.  Hampir-hampir tiada lagi lahan yang kosong karena semua dipergunakan untuk area bisnis.

     Pernahkah kita mengamati proses pembangunan gedung bertingkat?  Kekuatan bangunan sangat ditentukan oleh kualitas fondasinya, sama seperti kekuatan sebuah pohon sangat ditentukan oleh kekuatan akarnya.  Mengapa?  Fondasi menentukan tingginya sebuah bangunan.  Jika fondasinya biasa-biasa saja tidak akan mampu menopang bangunan yang tinggi diatasnya.  Semakin tinggi bangunan gedung semakin dalam dan semakin kokoh pula fondasi yang harus ditanam.  Fondasi juga menentukan daya tahan sebuah bangunan.  Semakin kuat fondasi sebuah bangunan semakin kokoh pula bangunan tersebut dan tidak mudah roboh ketika ada guncangan.  Fondasi bangunan akan menentukan besar/kecilnya bangunan yang hendak di bangun di atasnya.  Jika fondasi atau dasarnya kecil, maka bangunan yang bisa dibangun di atasnya juga kecil;  sebaliknya jika kita hendak mendirikan bangunan yang besar di atasnya, maka fondasi atau dasar bangunan harus kita buat besar juga!

     Kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh fondasi iman yang ia bangun.  Kita tahu bahwa hari-hari yang kita jalani dipenuhi dengan gejolak dan goncangan di segala aspek bidang kehidupan dan intinya bukan bagaimana caranya kita bisa lari atau menghindari goncangan yang ada, tetapi bagaimana kesiapan kita menghadapi setiap goncangan yang terjadi:  apakah kita mampu bertahan ataukah kita hancur berkeping-keping?  Ada tertulis:  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17).  Karena itu kita harus membangun fondasi atau mendasari hidup kita dengan firman Tuhan!

"Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."  Matius 4:4

THURSDAY, MARCH 19, 2015

BERHALA MODERN: Hobi Dan Kesenangan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Maret 2015 

Baca:  Yakobus 4:1-10

"Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  Yakobus 4:4

Setiap orang pasti punya kesenangan dan hobi tertentu, yang adakalanya dilakukan untuk sekedar melepas penat atau sebatas mengisi waktu luang, seperti memancing, nonton televisi, nonton bioskop, nonton konser musik, nge-gym, bermain futsal, tenis, badminton, golf, hikingtravellingbrowsing internet atau bermain game dan masih banyak lagi.  Semua itu adalah sah-sah saja dan wajar.  Namun adalah berbahaya sekali bila waktu-waktu yang sediakan untuk hobi dan kesenangan itu melebihi porsi sampai-sampai menyita sebagian besar waktu dan perhatian kita, bahkan membuat kita kecanduan.

     Banyak orang rela mengeluarkan uang banyak dan bersikap royal demi hobi dan memuaskan hasrat pribadi, namun bila hendak memberikan persembahan untuk pekerjaan Tuhan, mereka pikir-pikir dan selalu hitung-hitungan;  ada yang rela menghabiskan waktu seharian di lapangan golf pada hari Minggu dan meninggalkan jam-jam ibadah karena takut kehilangan kliennya;  ada anak-anak muda yang kecanduan browsing internet karena kecanduan situs-situs porno, ber-chatting ria dengan orang yang baru dikenalnya lewat jejaring media sosial, bermain game yang berbau kekerasan secara online sampai-sampai mereka lupa waktu untuk makan dan belajar;  tidak sedikit pula yang lebih memilih tidak berdoa dan tidak bersaat teduh daripada harus melewatkan satu episode sebuah cerita sinetron.

     Thomas Guthrie, penyanyi, pencipta dan gitaris kenamaan Amerika menulis:  "Jika anda lebih mencintai suatu kesenangan lebih daripada doa-doa anda, sebuah buku lebih daripada Alkitab, seseorang lebih daripada Kristus, atau suatu kegemaran lebih daripada pengharapan akan surga, waspadalah."  Salah satu upaya Iblis untuk memperhamba manusia adalah dengan mengalihkan fokus kita kepada hal-hal duniawi, menjadikan kita mengasihi dunia ini dengan menawarkan segala kenikmatan dan kesenangannya sehingga kita tidak lagi mengutamakan Tuhan.

"Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu."  1 Yohanes 2:15b

WEDNESDAY, MARCH 18, 2015

HARTA YANG SEJATI: Nama Baik

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Maret 2015 

Baca:  Matius 6:19-24

"Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya."  Matius 6:20

Jika dibaca sepintas ayat firman Tuhan hari ini yang perikopnya tentang mengumpulkan harta, kita akan berpikir bahwa Tuhan tidak menghendaki umat-Nya mengumpulkan harta selama menjalani hidup di dunia ini.  Tidak demikian!  Tuhan Yesus sediri berkata,  "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."  (Yohanes 10:10b).  Ada banyak tokoh di dalam Alkitab yang hidupnya diberkati Tuhan secara melimpah alias kaya raya, salah satu contohnya adalah Ishak.  Alkitab menyatakan bahwa Ishak  "...menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya."  (Kejadian 26:13).

     Yang Tuhan inginkan adalah tidak semata-mata kita mengejar materi duniawi atau berlomba-lomba mengumpulkan harta yang sifatnya hanya sementara dan tidak abadi,  "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar."  (1 Timotius 6:7).  Ayub pun menyadarinya,  "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya."  (Ayub 1:21).  Jadi bukan apa yang kita miliki yang menjadi persoalan, namun apa yang menguasai hidup kita inilah yang Tuhan peringatkan!

     Jadi Tuhan memerintahkan kita untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya  'harta'  di sorga, di mana ngengat dan karat tidak bisa merusakkannya dan pencuri tidak bisa membongkar serta mencurinya.  Inilah harta yang sesungguhnya dan bersifat abadi!  Ada tertulis:  "Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas."  (Amsal 22:1).  Sekaya-kayanya seseorang, bila hartanya berasal dari korupsi, merampok, menipu, memeras dan sebagainya, ia tidak memiliki  'harga'  di mata sesamanya, terlebih-lebih di hadapan Tuhan.  Walaupun mungkin seorang miskin di mata manusia, tapi jika ia memiliki kehidupan yang benar dan jujur di hadapan Tuhan dan juga manusia, maka sesungguhnya ia memiliki harta yang sejati.  "Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya,"  (Amsal 19:1),  daripada kaya tapi buruk kelakuannya.

Betapa pun kaya seseorang, yang dipuji Tuhan adalah kesalehan dan ketaatannya!

TUESDAY, MARCH 17, 2015

BERHALA MODERN: Bisnis dan Jabatan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Maret 2015 

Baca:  1 Yohanes 2:15-17

"Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya."  1 Yohanes 2:17

Bentuk lain berhala-berhala masa kini adalah bisnis dan jabatan.  Berbisnis, bekerja, berkarir dan menduduki sebuah jabatan merupakan impian semua orang.  Tetapi kalau seseorang tidak mampu menjaga sikap hatinya, maka bisnis atau pekerjaan dan juga jabatan bisa saja menjadi berhala bagi dirinya.  Bagaimana mungkin bisnis dan jabatan bisa menjadi berhala?  Kalau begitu kita tidak perlu bekerja dan berusaha.  Bukankah kita perlu makan dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya?  Kalau kita tidak bekerja, bagaimana mungkin kita mendapatkan uang dan bisa bertahan hidup?

     Memang benar sekali bahwa setiap orang perlu bekerja untuk mencari nafkah, tapi ada orang-orang tertentu yang bekerja sepanjang hari dan menempatkan pekerjaan atau karir sebagai hal yang jauh lebih penting dan paling utama dalam hidupnya.  Hari-harinya disibukkan dengan urusan bisnis dan bisnis, sampai-sampai berkata:  "Aku sangat sibuk, aku tidak punya waktu lagi untuk ikut-ikut persekutuan atau bergabung dalam pelayan di gereja.  Maaf!"  Ada pula yang enggan menutup tokonya pada hari Minggu karena ramai pembeli.  Jam-jam ibadah dikesampingkan tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.  Kita lupa bahwa waktu adalah milik Tuhan dan sepenuhnya di bawah kendali-Nya, sementara kita dipanggil untuk menggunakan waktu dengan baik dan bijak.  "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba."  (Pengkotbah 9:12).

     Demi mendapatkan jabatan ada orang yang menghalalkan segala cara, dan karena iming-iming jabatan pula ada orang percaya yang memilih berkompromi dengan dunia, melepaskan iman dan menyangkal Tuhan Yesus.  Pengorbanan Kristus di kayu salib dianggapnya sebagai hal yang murahan sehingga bisa ditukar-tukar.  Rasul Paulus sudah memperingatkan,  "...janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya."  (Ibrani 10:35).

Prioritaskan Tuhan terlebih dahulu, maka Tuhan pasti akan memberkati usaha kita dan mengangkat hidup kita!

MONDAY, MARCH 16, 2015

BERHALA MODERN: Cinta Uang

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Maret 2015 

Baca:  1 Timotius 6:7-10

"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang."  1 Timotius 6:10a

Tak bisa dipungkiri bahwa semua orang pasti memerlukan uang.  Dengan uang kita dapat membeli segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kita selama hidup di dunia ini.  Karena itu banyak orang beranggapan bahwa uang adalah segala-galanya.  Pepatah Tiongkok kuno:  "Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang manusia tidak dapat berbuat apa-apa."

     Urusan uang benar-benar menjadi sesuatu yang sangat sensitif bagi semua orang.  Di satu sisi kita semua menyadari pentingnya uang dalam kehidupan ini, tapi di sisi lain uang juga dapat menimbulkan masalah besar bagi yang memilikinya, karena dapat mempengaruhi prinsip dan gaya hidup semua orang.  Berhati-hatilah!  Uang bisa menjadi hamba yang baik, namun juga bisa menjadi tuan yang sangat jahat tergantung bagaimana menyikapinya.  Ada orang-orang tertentu yang rela mengorbankan harga diri/menjual diri demi mendapatkan uang, ada yang menempuh jalan sesat dan melanggar hukum  (korupsi, suap, manipulasi) demi meraup uang, bahkan ada yang nekat melakukan tindak kejahatan semata-mata demi mendapatkan uang.  Ini berarti uang bukan lagi menjadi hamba yang kita atur dan kendalikan, melainkan sudah menjadi tuan dan berhala dalam hidup seseorang.  Mereka mengira bahwa jika telah memiliki banyak uang dalam jumlah yang besar akan mengalami kepuasan.  Faktanya?  Berapa pun jumlah uang yang dimiliki seseorang tidak akan pernah memberikan kepuasan kepadanya.  "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang,"  (Pengkotbah 5:9).

     Marian Wright Edelman, aktivis perempuan dari Amerika mengatakan,  "Jangan pernah bekerja hanya untuk mendapatkan uang atau kekuasaan.  Mereka tak akan menyelamatkan jiwamu atau membantumu tidur malam."  Jangan sekali-kali menempatkan uang sebagai dasar hidup, sebab ketika uang menjadi dasar hidup kita, kita akan menjadi orang yang sangat materialistis, segala sesuatu diukur dengan uang, dan yang kita pikirkan hanyalah uang, uang dan uang.  Karena uang pulalah sifat dan karakter seseorang bisa berubah secara drastis, dari yang baik menjadi sangat jahat!

Uang harus tetap berada di dalam kendali kita, tetapi kita atur dan kita kelola dengan baik, bukan kita yang diatur dan dikendalikan oleh uang!

SUNDAY, MARCH 15, 2015

BERHALA MODERN: Harta Kekayaan (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Maret 2015 

Baca:  Mazmur 52:1-11

"Lihatlah orang itu yang tidak menjadikan Allah tempat pengungsiannya, yang percaya akan kekayaannya yang melimpah,"  Mazmur 52:9

Kehausan terhadap kekayaan membuat orang rela mengorbankan segala hal, termasuk mengorbankan harga diri, mengorbankan keluarga dan sahabat, bahkan rela mengorbankan iman dan meninggalkan Tuhan.  Sigmund Freud, seorang ahli kejiwaan ternama Austria, menulis:  "Kita tidak bisa mengingkari kesan bahwa manusia umumnya menggunakan standar yang keliru, dimana mereka mencari kekuatan, kesuksesan dan kekayaan untuk mereka sendiri, dan memuji diri mereka di hadapan orang lain.

     Karena yang dipikirkan kekayaan semata akhirnya orang terperangkap ke dalam pemikiran serba duniawi dan memiliki sifat materialistis.  Sehari 1x24 jam yang dipikirkan hanyalah bagaimana mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya.  Mereka beranggapan bahwa memiliki kekayaan berlimpah adalah satu-satunya cara mendapatkan kebahagiaan, penghormatan, pengakuan.  Memang di mata dunia bertambahnya kekayaan seseorang akan makin mengdongkrak status sosial dan gengsinya, makin dihargai, dihormati dan diprioritaskan, sebab  "...manusia melihat apa yang di depan mata,"  (1 Samuel 16:7), sementara orang miskin keberadaannya pasti kurang dianggap.  "Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya."  (Amsal 19:4).  Ketika seseorang menyerahkan diri dikuasai sifat serakah, saat itulah ia telah menjadikan harta kekayaan sebagai berhala, lalu  "...menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."  (1 Timotius 6:10b).

     Andrew Carneige, mantan pebisnis kenamaan Skotlandia berpendapat,  "Milioner yang suka tertawa jarang dijumpai.  Pengalamanku adalah kekayaan mudah membuat senyum hilang."  Tuhan tidak pernah melarang kita untuk memiliki kekayaan yang berlimpah, tapi yang patut diwaspadai adalah bahaya dari sikap serakah, sehingga kita menempatkan harta kekayaan sebagai fokus utama hidup kita, lebih daripada Tuhan.  Padahal Alkitab menyatakan:  "...siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia."  (Pengkotbah 5:9).

Keserakahan terhadap harta kekayaan itu sama dengan dosa penyembahan berhala  (baca  Kolose 3:5).

SATURDAY, MARCH 14, 2015

BERHALA MODERN: Harta Kekayaan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Maret 2015 

Baca:  Pengkotbah 5:7-19

"Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri."  Pengkotbah 5:12

Mungkin ada di antara kita berkata,  "Aku tidak menyembah patung atau benda-benda lain, jadi tidak ada yang perlu dikuatirkan."  Orang mengira penyembahan berhala itu hanya berkaitan dengan patung-patung atau benda-benda keramat dan segala jenisnya.  Itu tidaklah salah, yang seperti itu adalah berhala-berhala kuno, tetapi ada bentuk-bentuk berhala lain di masa sekarang ini yang seringkali tidak kita sadari.

     Patut diketahui bahwa segala sesuatu yang kita prioritaskan, kita nomor satukan, kita idolakan, kita hargai, kita hormati sampai-sampai menyita sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, dan aktivitas hidup kita, di mana hati dan pikiran kita lebih fokus, condong dan berpaut kepadanya melebihi kasih kita kepada Tuhan, sehingga hal ini menggeser posisi Tuhan ke urutan kesekian dalam hidup kita itu sudah termasuk dalam kategori berhala.  Karena itu rasul Yohanes memperingatkan,  "Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala."  (1 Yohanes 5:21).  Kata segala berhala berarti menunjuk adanya banyak ragam, bentuk dan ekspresi dari berhala.  Rasul Paulus juga menasihati kita untuk menjauhkan diri dari segala bentuk penyembahan berhala itu  (baca  1 Korintus 10:14).  Adapun ragam bentuk berhala modern di antaranya adalah harta kekayaan.  Banyak orang tanpa sadar telah menjadikan kekayaan sebagai yang terutama dalam hidupnya, bahkan mereka menjadikan kekayaan sebagai sandaran dan harapan.  Mereka berpikir bahwa harta kekayaan dapat menjamin kebahagiaan hidupnya sehingga perkara-perkara rohani mereka kesampingkan.

     Charles Spurgeon, pengkhotbah abad 19 menulis,  "Bukan berapa banyak yang kita miliki, yang dapat membuat kita bahagia."  Karena lebih mencintai uang dan kekayaan, orang rela mengorbankan iman dan meninggalkan Tuhan seperti seorang anak muda yang kaya.  Ketika diperintahkan Tuhan Yesus untuk menjual segala miliknya dan membagikannya kepada orang miskin, seketika itu juga  "...pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya."  (Matius 19:22).  Orang muda ini lebih mencintai harta kekayaannya daripada Tuhan, jadi kekayaan sudah menjadi berhala bagi dirinya.

"Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  Matius 6:21

FRIDAY, MARCH 13, 2015

BERHALA: Tak Bisa Berbuat Apa-Apa

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Maret 2015 

Baca:  Mazmur 135:1-21

"Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia,"  Mazmur 135:15

Penyembahan berhala adalah dosa yang berulang kali diperbuat oleh bangsa Israel, umat pilihan Tuhan!  Contoh nyata adalah ketika Musa masih berada di gunung Sinai untuk bertemu Tuhan, umat Israel tidak sabar menantikan dia dan secara terang-terangan mereka memaksa Harun membuatkan patung untuk mereka sembah.  "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia."  (Keluaran 32:1).  Atas permintaan mereka sendiri akhirnya dibuatlah patung anak lembu emas.

     Tindakan umat Israel berpaling dari Tuhan dan menyembah kepada berhala benar-benar menimbulkan cemburu dan sakit hati Tuhan, padahal berhala itu hanyalah buatan tangan manusia dan tidak lebih.  Meskipun  "mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka."  (Mazmur 135:16-17);  berhala itu hanyalah sepotong kayu, sebongkah batu atau logam, yang tidak memiliki nafas hidup dan tidak memiliki kuasa apa-apa, karena itu Samuel menyebut berhala sebagai  "...dewa kesia-siaan yang tidak berguna dan tidak dapat menolong karena semuanya itu adalah kesia-siaan belaka."  (1 Samuel 12:21).  Adalah sia-sia belaka seorang datang meminta pertolongan kepada berhala dan menaruh pengharapan kepadanya, sebab berhala-berhala itu sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi menyelamatkan manusia.

     Sungguh aneh tapi nyata bahwa di era yang serbamodern ini masih banyak orang yang percaya, meminta pertolongan dan menyembah kepada berhala, padahal di balik berhala-berhala tersebut malahan ada roh-roh jahat yang menguasainya.  Jadi kekuatan di balik penyembahan berhala adalah berasal dari Iblis, yang adalah ilah zaman akhir.  Dengan kuasa gelapnya Iblis mengadakan mujizat-mujizat palsu, memberi penglaris untuk toko dan usaha, serta memberi kekayaan yang diinginkan manusia secara instan.  Itulah sebabnya banyak orang yang terpikat dan terpedaya olehnya!

Tanpa disadari, mereka yang terlibat dalam penyembahan berhala sudah berada dalam jerat Iblis dan bala tentaranya.

THURSDAY, MARCH 12, 2015

JANGAN MENYEMBAH BERHALA!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Maret 2015 

Baca:  Imamat 26:1-13

"Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu."  Imamat 26:1

Mendengar kata berhala, hampir semua orang pikirannya langsung tertuju kepada sesuatu yang berwujud patung, pohon besar, kuburan kuno, keris, ukiran, jimat, atau hal-hal yang berkaitan dengan dunia perdukunan, yang didewakan, disembah, dikultuskan, diagungkan dan dipuja-puja.  Itu memang benar!  Semuanya adalah bentuk-bentuk berhala yang secara kasat mata dapat terlihat, di mana banyak orang datang untuk menyembah.  Dalam teks bahasa Yunani, berhalaadalah idololatres, ini berkaitan erat dengan pengabdian atau pelayanan.  Jadi berhala adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang untuk melakukan pengabdian atau pelayanan terhadap suatu obyek tertentu, selain daripada Tuhan.

     Alkitab menyatakan bahwa menyembah berhala adalah suatu perbuatan yang menentang kehendak Tuhan dan merupakan suatu kebencian dan kekejian di hadapan-Nya.  Karena itulah perintah untuk tidak menyembah kepada allah lain atau berhala menjadi perintah yang paling utama dalam sepuluh hukum Tuhan.  Tuhan berfirman,  "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,"  (Keluaran 20:3-5).

     Masalah penyembahan berhala bukanlah masalah yang sepele atau bisa kita remehkan.  Jika kita melanggarnya adalah konsekuensi yang harus kita tanggung, sebab Tuhan yang adalah Sang Pencipta langit dan bumi dan segala isinya tidak menghendaki umat yang diciptakan-Nya menyembah kepada allah lain, selain Dia, Tuhan yang hidup dan berkuasa, yang bertahta di dalam Kerajaan Sorga.

"Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka."  Ulangan 32:21

WEDNESDAY, MARCH 11, 2015

MEMASYHURKAN NAMA TUHAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Maret 2015 

Baca:  1 Korintus 1:18-31

"Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."  1 Korintus 1:31

Adakah hal yang pantas untuk kita jadikan alasan untuk memegahkan diri sendiri dan menjadi sombong?  Seringkali kita membusungkan dada karena karunia pelayanan yang kita miliki;  kita begitu bangga dengan kemampuan dan kepintaran kita;  kta merasa diri penting, patut dihormati dan dihargai karena harta kekayaan dan jabatan kita yang lebih tinggi dari orang lain.  Kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian Tuhan, bahkan keselamatan yang telah kita terima adalah semata-mata anugerah-Nya, bukan karena jasa-jasa kita.  Seringkali orang beranggapan bahwa keselamatan dapat diperoleh ketika seseorang banyak memberikan persembahan untuk gereja dan melakukan banyak amal.

     Alkitab menyatakan,  "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."  (Efesus 2:8-9).  Nabi Yeremia memperingatkan,  "Beginilah firman TUHAN: 'Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.'"  (Yeremia 9:23-24).     Intinya, Tuhan memanggil dan memilih kita bukan karena kita baik, tapi semua adalah karena anugerah-Nya, kasih setia-Nya, kebaikan-Nya dan rencana-Nya.  Jika sampai hari ini kita dilayakkan dan bisa melayani Tuhan bukan karena kita lebih hebat dan lebih pintar, tapi karena Tuhan punya tujuan yaitu supaya kita memasyhurkan namaNya.

     Menyadari hidup kita untuk mengerjakan panggilan Tuhan, kita tidak akan sembrono lagi menggunakan waktu dan kesempatan.  Kita akan terus berjuang dan mempertahankan keselamatan yang kita terima dengan melayani Tuhan sesuai dengan karunia masing-masing dan bertekad menjadi teladan melalui sikap dan perbuatan kita.

"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  1 Korintus 6:20

TUESDAY, MARCH 10, 2015

MEMASYHURKAN NAMA TUHAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Maret 2015 

Baca:  1 Korintus 4:6-21

"...supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain."  1 Korintus 4:6

Secara umum, panggilan Tuhan adalah beban yang Tuhan taruh di dalam diri orang percaya untuk melayani dan berkarya bagi Dia.  Tuhan berkata,  "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah..."  (Yohanes 15:16).  Artinya Tuhanlah yang memilih kita, bukan kita yang memilih Dia, bahkan Ia menyelamatkan dan mengangkat kita untuk menjadi anak-anak-Nya dan umat pilihan-Nya.  Apa tujuan Tuhan memilih dan memanggil kita?  Supaya kita memasyhurkan nama-Nyamelalui perbuatan kita dengan menjalankan peran kita sebagai saksi-saksi-Nya di tengah-tengah dunia ini.

     Panggilan untuk memasyhurkan nama Tuhan inilah yang telah dilupkan dan diabaikan oleh jemaat di Korintus!  Rasul Paulus pun mempertegas, mengingatkan dan meluruskan kembali motivasi pelayanan mereka.  Apa itu motivasi?  Motivasi adalah sebuah kekuatan yang melatarbelakangi setiap perencanaan, keputusan, pilihan dan tindakan seseorang.  Kekuatan inilah yang memberi semangat dan gairah untuk kita mengerjakan sesuatu, baik itu yang sifatnya positif maupun yang negatif sekalipun.  "...sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).  Tuhan sangat memperhatikan motivasi seseorang dalam melakukan segala sesuatu, baik dalam pekerjaan apa pun, terlebih-lebih dalam melayani Tuhan.  Penting sekali menjaga motivasi kita tetap selaras dengan kehendak dan panggilan Tuhan, sebab itu akan mempengaruhi pikiran, sikap, tindakan, serta menentukan hasil yang kita kerjakan.

     Rasul Paulus mendapati ada banyak jemaat Korintus yang tidak lagi menempatkan Kristus sebagai pusat pujian, tetapi mereka cenderung memegahkan diri sendiri.  Kesombongan telah menjadi penyakit yang sangat kronis sampai-sampai Paulus harus memperingatkan,  "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah."  (1 Korintus 10:31).

Motivasi apa yang mendasari kita dalam melakukan segala sesuatu?  Untuk kebanggaan diri sendiri atau untuk memasyhurkan nama Tuhan?

MONDAY, MARCH 9, 2015

PERSEKUTUAN DENGAN SESAMA (3)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Maret 2015 

Baca:  Galatia 6:1-10

"Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman."  Galatia 6:10

Hidup dalam persekutuan berarti mau menerima orang lain apa adanya dengan segala kelemahan dan kekurangannya, serta mau melayani satu sama lain seperti teladan Tuhan Yesus yang rela membasuh kaki murid-murid-Nya,  "sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu."  (Yohanes 13:15).  Hidup dalam persekutuan berarti pula mau bertolong-tolongan dan saling menanggung beban, demikianlah nasihat Paulus,  "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."  (Galatia 6:2).

     Mari belajar dari orang Samaria yang murah hati.  Ia rela berkorban untuk orang lain tanpa pamrih meskipun orang yang ditolongnya adalah seteru bangsanya.  Ada tertulis,  "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?"  (1 Yohanes 3:17).  Yang dimaksud mengasihi bukan sekedar membalas kebaikan yang telah kita terima dari orang lain,  "Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian."  (Lukas 6:33);  tetapi Tuhan menghendaki kita menyatakan kasih itu secara nyata kepada semua orang tanpa terkecuali, termasuk musuh sekalipun.  Kasih Tuhan akan selalu mengalir di dalam kehidupan kita apabila kita juga terus mengalirkan kasih yang telah kita terima itu kepada orang lain.  Sebagai orang percaya kita harus dapat menjadi sumber kasih Tuhan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita, sehingga mereka akan menemukan dan merasakan aliran kasih Tuhan melalui kehidupan kita di mana pun dan kapan pun waktunya.

     Sesungguhnya kasih adalah sarana penginjilan dan alat kesaksian yang paling efektif, karena ada banyak orang yang tidak bisa dijangkau dengan hanya diberi khotbah, tapi hati orang akan mudah tersentuh ketika kita melakukan perbuatan kasih.

Memiliki persekutuan yang erat dengan saudara-saudara seiman selaku sesama anggota keluarga Kerajaan Sorga adalah proses pembelajaran dan latihan bagi kita untuk mempraktekkan kasih, sebelum kita melangkah ke luar.

SUNDAY, MARCH 8, 2015

PERSEKUTUAN DENGAN SESAMA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Maret 2015 

Baca:  1 Petrus 3:8-12

"Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,"  1 Petrus 3:8

Selain sandang, pangan dan papan yang merupakan kebutuhan pokok bagi semua manusia ada kebutuhan lain yang tak kalah penting yaitu hubungan  (relationship).  Tuhan tidak pernah menciptakan manusia dengan tujuan supaya ia hidup sendirian dan terasing tanpa bersentuhan dengan orang lain.  Karena itu manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk saling berinteraksi dan bersekutu.

     Kata persekutuan memiliki arti dipersatukan menjadi satu, dalam kebersamaan, sekutu atau kawan sekerja.  Kita bisa disebut sebagai bagian dari suatu persekutuan dan menjadi kawan sekerja apabila kita memiliki kebersamaan dan mengembangkan sikap seperti yang disampaikan oleh rasul Petrus:  seia sekata, seperasaan, mengasihi, penyayang dan rendah hati  (ayat nas).  Intinya, kasih adalah landasan dasar terbentuknya sebuah persekutuan.  Sebaliknya jika tiap-tiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, egois dan tidak punya  'hati'  terhadap orang lain akan merusak dan menghancurkan sebuah persekutuan.  Jadi dalam suatu persekutuan kita tidak lagi menonjolkan  'aku', melainkan  'kita'  yang harus dikedepankan.  Rasul Paulus memperingatkan,  "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat."  (Roma 13:8), sebab kasih Tuhan dalam hidup ini sungguh tak terukur  "...betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,"  (Efesus 3:18).

     Setiap kasih yang Tuhan nyatakan selalu ada pesan yang hendak Tuhan sampaikan yaitu supaya kita mengikuti teladan-Nya dengan menyatakan kasih kepada sesama, sebagai bukti bahwa kita mengasihi Tuhan melalui ketaatan kita melakukan perintah-Nya dalam hal mengasihi.  Adalah sangat berbahaya seseorang mengatakan diri sangat  'rohani'  dan memiliki persekutuan yang indah dengan Tuhan, jika ia sendiri memiliki banyak masalah dalam hal persekutuan dengan sesamanya.

"Jikalau seorang berkata: 'Aku mengasihi Allah,' dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya."  1 Yohanes 4:20

SATURDAY, MARCH 7, 2015

PERSEKUTUAN DENGAN SESAMA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Maret 2015 

Baca:  1 Yohanes 1:5-7

"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa."  1 Yohanes 1:7

Selain kita dipanggil untuk memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, kita juga harus hidup dalam persekutuan dengan sesama.  Dengan sifatnya sebagai makhluk sosial, secara natural manusia akan membentuk suatu komunitas karena setiap orang memiliki kebutuhan untuk saling berinteraksi, saling berbagi rasa, saling mencurahkan kasih sayang dan sebagainya, di mana aspek ini tidak bisa dipenuhi bila kita hidup seorang diri, melainkan melalui hubungan dan persekutuan dengan orang lain.  Jadi beberapa alasan utama manusia membentuk komunitas adalah untuk keamanan, identitas dan juga kebutuhan emosional.

     Adapun tanda bahwa kita memiliki persekutuan dengan sesama adalah ketika kita hidup di dalam kasih, atau mempraktekkan kasih sebagaimana yang Tuhan Yesus perintahkan,  "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."  (Yohanes 13:34-35).  Rasul Paulus juga menasihatkan,  "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah."  (Efesus 5:1-2).  Kehidupan kekristenan meniru ajaran dan perbuatan Allah.  Jika kita mengaku anak-anak Allah maka kita harus meniru dan memiliki sifat menyerupai Allah Bapa kita agar selaras dengan keberadaan kita sebagai anak-anak-Nya.  Tertulis:  "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."  (1 Yohanes 4:8).

     Jadi, mengasihi harus menjadi gaya hidup kita sehari-hari.  Mengasihi berarti membuang semua sifat lama kita yang cenderung mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang lain, dan berubah menjadi pribadi yang memiliki kepedulian.

Hakekat kasih bukanlah menerima, tetapi memberi, yaitu kasih yang diwujudkan dalam sebuah tindakan nyata!

FRIDAY, MARCH 6, 2015

PANGGILAN TUHAN: Persekutuan Dengan Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Maret 2015 

Baca:  1 Korintus 1:4-9

"Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia."  1 Korintus 1:9

Selain dipanggil Tuhan untuk hidup dalam kekudusan, kita juga dipanggil untuk memiliki persekutuan dengan Tuhan, sebab kekristenan sesungguhnya bukanlah suatu agama, melainkan menunjuk kepada suatu hubungan karib antara Allah dan umat pilihan-Nya.

     Hubungan karib yang sempat terputus dan terhalang oleh dosa dan pelanggaran manusia kini telah pulih kembali melalui karya pengorbanan Kristus di Golgota, dan ditandai dengan  "...tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah..."  (Matius 27:51);  artinya sudah tidak ada lagi yang menghalangi kita untuk bisa memandang dan masuk serta melihat kemuliaan Tuhan dan bersekutu denganNya.  "...Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,"  (Efesus 2:14);  Kita yang dahulu terpisah dari Allah,  "...sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu 'jauh', sudah menjadi 'dekat' oleh darah Kristus."  (Efesus 2:13).

     Adalah suatu keharusan setiap orang percaya hidup dalam persekutuan yang karib dengan Tuhan karena merupakan syarat mutlak agar kita mengalami pertumbuhan rohani.  Daud berkata,  "Hatiku mengikuti firman-Mu: 'Carilah wajah-Ku'; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN."  (Mazmur 27:8).  Dengan kata lain, tanpa persekutuan yang karib dengan Tuhan cepat atau lambat kita pasti akan mengalami kemunduran dan bahkan kematian rohani.  "Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:4b-5).

     Hidup dalam persekutuan dengan Tuhan berarti senantiasa bertekun dalam doa dan tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang ada, melainkan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang semakin dekat  (baca  Ibrani 10:25).

"Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik."  Mazmur 84:11

THURSDAY, MARCH 5, 2015

JANGAN MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Maret 2015 

Baca:  Yakobus 3:13-18

"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."  Yakobus 3:16

Salah satu faktor penyebab terjadinya perpecahan dalam kehidupan keluarga, jemaat, persekutuan, pelayanan dan bermasyarakat adalah sikap mementingkan diri sendiri.  Mementingkan diri sendiri disebut pula selfish atau juga egois, yang dalam kamus  'Webster'  didefinisikan:  memerhatikan diri sendiri secara tidak pantas atau secara berlebih-lebihan, mendahulukan kenyamanan dan keuntungan diri sendiri tanpa memperhatikan, atau dengan mengorbankan kenyamanan dan keuntungan orang lain.

     Ketika seseorang mementingkan diri sendiri ia akan menjadikan dirinya sebagai pusat dan tidak lagi mempedulikan kepentingan dan perasaan orang lain.  Inilah yang menjadi sumber dari banyak kekacauan dan kejahatan  (ayat nas).  Mengapa?  Karena orang yang mementingkan diri sendiri pasti sulit menjalin kerjasama dengan orang lain sebagai anggota tim di dalam menyelesaikan sebuah tugas;  Orang yang mementingkan diri sendiri juga cenderung mudah marah, tersinggung serta tidak bisa menguasai diri.  "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan."  (Mazmur 37:8).  Orang yang egois memiliki kecenderungan menghakimi dan mencela orang lain karena menganggap diri sendiri paling benar dan tidak pernah salah.  Rasul Paulus mengingatkan,  "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."  (Galatia 6:4).  Sebagai orang percaya kita harus membuang jauh sifat mementingkan diri sendiri agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

     Dalam segala perkara marilah senantiasa meneladani Kristus,  "...Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,...dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."  (Filipi 2:1, 3, 4).

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."  Matius 7:12

WEDNESDAY, MARCH 4, 2015

JANGAN ADA PERPECAHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Maret 2015 

Baca:  1 Korintus 1:10-17

"Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus."  1 Korintus 1:12

Mengapa rasul Paulus perlu sekali mengingatkan jemaat di Korintus pentingnya persekutuan?  Karena di antara pengikutnya telah terjadi perpecahan, hubungan antar anggota tubuh Kristus tidak lagi harmonis.  Mereka membentuk kubu atau golongan:  golongan Apolos, golongan Kefas dan golongan Kristus.  Pertanyaannya:  apakah masing-masing golongan memiliki Kristus yang berbeda-beda?  Tentu saja tidak, artinya mereka sendiri yang telah membentuk benteng-benteng atau sekat-sekat di antara mereka.  Karena itu rasul Paulus bertanya:  "Adakah Kristus terbagi-bagi?"  (1 Korintus 1:13).

     Di zaman sekarang ini ada banyak orang Kristen yang tanpa sadar hatinya melekat kepada hamba Tuhan dibanding firman yang disampaikan.  Mereka mulai mengkultuskan dan mengidolakan pemimpin rohani atau pendeta, bukan lagi Kristus.  Mereka lebih suka menyanjung atau memuja manusia yang tampak secara kasat mata daripada Tuhan yang tidak kelihatan.  Mereka ogah-ogahan datang beribadah jika tahu yang berkhotbah ada pendeta yang kurang menarik dan tidak disukai.  Inilah yang akhirnya menjadi biang perpecahan di antara jemaat dalam sebuah gereja.  Mereka lupa, bahwa sehebat apa pun hamba Tuhan mereka hanyalah alatNya saja, di mana tanpa Roh Tuhan bekerja mereka tidak bisa berbuat apa-apa.  "Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri."  (1 Korintus 3:7-8).

     Tuhan menghendaki kita senantiasa hidup dalam persekutuan yang erat di antara sesama anggota tubuh Kristus.  Bersekutu berarti membangun suatu hubungan yang di dalamnya terdapat unsur sehati, sepikir, saling menguatkan dan menopang, sehingga terbangun satu kesatuan yang utuh, tidak terpecah-pecah.

Kita harus memusatkan kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan dan firman-Nya saja, bukan pada pemberita firman atau siapa.

TUESDAY, MARCH 3, 2015

PANGGILAN TUHAN: Untuk Hidup Kudus (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Maret 2015 

Baca:  1 Korintus 5:1-13

"Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul."  1 Korintus 5:9

Kota Korintus adalah sebuah kota yang sangat mapan dan modern di zamannya.  Selain sebagai kota pelabuhan, Korintus termasuk salah satu pusat perekonomian utama di Yunani, tak ubahnya dengan kota metropolitan di masa sekarang ini di mana segala kesenangan dan gemerlap kenikmatan dunia ditawarkan.  Hal ini mendorong terjadinya segala bentuk tindak kejahatan dan juga pelanggaran moral, sehingga kota ini mempunyai reputasi yang sangat buruk karena hal-hal yang amoral.

     Keadaan itu berdampak buruk bagi kehidupan orang percaya di Korintus sehingga mereka pun terbawa arus, hidup dalam keduniawian, bahkan di antara mereka banyak yang terlibat dalam dosa percabulan.  Ibadah dan pelayanan yang mereka lakukan tak lebih dari sekedar aktivitas rutin semata.  "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku."  (Matius 15:7-8), sehingga mereka menjadi batu sandungan bagi orang-orang di kota lain.  Bukan hanya perpecahan di antara jemaat, mereka juga menunjukkan perilaku yang menyimpang dari kebenaran.  Sebagai umat tebusan-Nya yang telah disucikan, dikuduskan, dibenarkan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib dan diperbaharui oleh Roh Kudus, setiap orang percaya seharusnya menunjukkan kualitas hidup yang berpadanan dengan predikat tersebut.  Peringatan keras ini disampaikan oleh Paulus karena jemaat di Korintus sudah tidak menghargai kekudusan dan kesucian perkawinan, padahal  "...kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"  (1 Korintus 6:20).

     Hidup kudus adalah suatu proses yang berlangsung secara progresif dan harus dikerjakan terus menerus seumur hidup kita.  Hidup kudus berarti kita menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan mengukur segala sesuatu sesuai dengan standar firman Tuhan.  Hidup kudus berarti pula berusaha keras menjauhi segala jenis kejahatan dan bertekad kuat menaati apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Jangan sia-siakan pengorbanan Kristus dengan melakukan hal-hal yang tidak kudus!

MONDAY, MARCH 2, 2015

PANGGILAN TUHAN: Untuk Hidup Kudus (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Maret 2015 

Baca:  1 Korintus 1:1-3

"...yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita."  1 Korintus 1:2

Kita diciptakan Tuhan bukan karena suatu kebetulan, tetapi semua berada dalam rencana-Nya untuk suatu tujuan, artinya di dalam diri kita ada suatu panggilan Tuhan yang harus kita kerjakan.  Jika kita mencermati apa yang disampaikan rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus ini, ada hal-hal penting yang harus dipahami oleh setiap orang percaya berkaitan dengan panggilan Tuhan.  Adapun panggilan Tuhan bagi setiap orang percaya antara lain adalah panggilan untuk hidup dalam kekudusan (ayat nas).

     Di dalam 1 Petrus 1:15-16 dikatakan,  "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."  Karena Tuhan kita adalah kudus, maka sebagai anak-anak-Nya kita pun harus hidup dalam kekudusan,  "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya."  (Efesus 1:4).  Secara etimologi, kata kudus memiliki pengertian dipisahkan dari dosa, diasingkan dari hal-hal yang duniawi, disendirikan, dikhususkan secara total untuk dipersembahkan kepada Tuhan.  Oleh karena itu firman Tuhan memperingatkan:  "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."  (Roma 12:2).  Dengan kata lain, sebagai orang-orang yang telah diselamatkan kita tidak boleh mengikuti pola hidup dunia ini dan tidak terbawa arus yang ada.

     Kehidupan orang-orang percaya di Korintus ternyata tidak jauh berbeda dari kehidupan orang-orang di luar Tuhan.  Secara jasmaniah mereka tampak aktif menjalankan ibadah dan pelayanan, tetapi perbuatan mereka sangat duniawi dan tidak menunjukkan kualitas hidup sebagai ciptaan baru di dalam Kristus  (2 Korintus 5:17).

"Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu."  2 Korintus 6:17

SUNDAY, MARCH 1, 2015

MEMAHAMI PANGGILAN TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Maret 2015 

Baca:  1 Korintus 1:1-17

"Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu."  1 Korintus 1:11

Jemaat Korintus adalah jemaat yang didirikan oleh rasul Paulus bersama dengan Akwila dan Priskila dalam perjalanan misinya yang kedua.  Alkitab mencatat:  "...mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani."  (Kisah 18:3-4).  Setelah melayani jiwa-jiwa di Korintus untuk beberapa waktu lamanya Paulus melanjutkan perjalanan misinya ke Efesus.

     Saat berada di Efesus inilah Paulus mendapat berita yang kurang mengenakkan dan sekaligus mengejutkan dari keluarga Kloe, bahwa pasca kepergian Paulus ternyata ada banyak permasalahan yang terjadi di antara jemaat di Korintus.  Mengapa bisa terjadi?  Ternyata masalah timbul karena kurangnya pemahaman jemaat tentang panggilan Tuhan dalam hidup mereka, padahal panggilan hidup adalah hal yang sangat mendasar dalam kehidupan orang percaya.  Mungkin kita tampak sibuk dengan aktivitas-aktivitas rohani atau pelayanan, begitu bangga dengan talenta dan karunia-karunia yang kita miliki, atau bangga dengan kemahiran kita dalam mempelajari isi Alkitab dan sebagainya.  Namun apalah arti semuanya itu jika dalam kehidupan sehari-hari atau dalam prakteknya kita tidak memiliki buah-buah pertobatan atau karakter yang mencerminkan diri sebagai pengikut Kristus.  Karena itu rasul Paulus mengingatkan,  "...supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu."  (Efesus 4:1).

     Panggilan berarti seruan yang membuat seseorang mengarahkan pandangan dan menyendengkan telinganya kepada si pemanggil;  panggilan hidup berarti seruan yang membuat seseorang mengarahkan hidupnya kepada suatu titik atau sasaran tertentu.  Bila dihubungkan dengan panggilan Tuhan, maka panggilan hidup berarti seruan Tuhan kepada setiap orang percaya supaya mereka mengarahkan hidup mereka kepada apa yang menjadi kehendak dan rencana Tuhan.  Contoh:  Tuhan memanggil Abraham untuk ke luar dari negerinya dan dari sanak saudaranya ke suatu negeri yang hendak ditunjukkan-Nya.

Sudahkah kita memiliki kehidupan yang berpadanan dengan panggilan Tuhan?



Label: